Regulasi Baru, Melahirkan Peradaban Baru, Mau kah Kita Berubah ?

Opini, Legalvoice.id - Pasca DPR mengesahkan RUU Cipta Kerja dengan Konsep Omnibus Law pada tanggal 05 Oktober 2020,banyak yang tidak setuju  dan melakukan demonstrasi sebagai pernyataan sikap protes secara terus-menerus bahkan diberbagai kota di Indonesia. Fenomena ini adalah suatu hal yang wajar, karena suatu kebijakan tertentu dapat dipandang atau dirasakan merugikan serta mengurangi posisi nyaman yang sudah dirasakan selama ini, sehingga memicu terjadi perlawanan.

Perlu dipahami, bahwa kelahiran satu aturan atau regulasi baru dapat melahirkan hal baru pula, oleh karena itu, hal baru ini, sedikit-banyak akan mengganggu kenyamanan beberapa orang atau sekelompok orang.

Menurut pengalaman saya sehubungan dengan regulasi baru ini khususnya terkait aturan ketenagakerjaan. Kalau boleh dikatakan saya selaku pengusaha atau pelaku usaha kecil-kecilan yang memiliki kedai kopi, yang mana hasil penjualan / omzet tiap bulan  yang diperoleh saja jika disandingkan dengan aturan regulasi ketenagakerjaan, maka semua hasil penjualan tersebut tidak akan cukup menggaji karyawan, mengapa demikian? Dapat saya jelaskan berikut ini, usaha saya sebagai kedai kopi yang penjualannya masih dibawah 10 juta per bulan,bahkan terkadang tidak sampai 5 juta perbulan,  sementara itu, kedai kopi tersebut harus dikelola oleh minimal dua orang tenaga kerja. Apabila dilakukan perhitungan seluruh biaya yang harus dikeluarkan untuk operasional kedai kopi, maka timbul masalah yaitu sisa hasil penjualan tidak mencukupi untuk memberikan gaji dua orang karyawan tersebut sebagaimana dimaksud dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan. Ironis, tapi ya memang faktanya demikian, itu juga belum termasuk kalau dihitung dengan sewa tempat usaha. 

Kemudian saya mencoba menerapkan cara bagaimana saya menjalankan pekerjaan menurut pengalaman saya ketika mulai bekerja di kantor pengacara, dimana pada waktu itu, saya sebagai lulusan strata satu sarjana hukum, saya diberikan imbalan yang jauh di bawah ukuran upah UMR, tapi apakah kemudian penghasilan saya tidak cukup untuk kehidupan saya sehari-hari? Nyatanya saya masih hidup dan bisa mengembangkan diri, demikian jawaban sederhana yang bisa saya sampaikan.

Jadi masalahnya adalah  bagaimana karyawan bisa mengembangkan potensi diri memaksimalkan daya juang ketika bekerja agar tempat kita bekerja menjadi produktif sehingga dapat memberikan reward / imbalan kepada kita. Dengan demikian, ukuran dalam pekerjaan bukan saja upah minimum tapi lebih dari sesuatu yang ditentukan.

Jika penjaga kedai kopi yang merupakan karyawan saya tidak mempunyai kreativitas metode kerja  dengan kacamata kuda bekerja dengan rajin kalau saya ada di kedai dan ketika tidak ada maka mereka lebih banyak bermain game dan lebih banyak pegang handphone ketimbang mengembangkan kreativitas mengenai bagaimana mengembangkan usaha yang saya berikan kepercayaan tersebut. Bahkan, terkadang ketika pelanggan datang pun karyawan tersebut tidak melihat dan tanggap karena sedang asyik bermain handphone.

Saya mau sampaikan bahwa ada suatu kebiasaan dan attitude kerja yang tidak maksimal yang sudah terbiasa dengan gaji standar, dan masuk jam 9 pagi dan  pulang  jam 5 sore, kemudian tanggal muda dapat gaji pergi pagi pulang sore. Dalam regulasi ketenagakerjaan baru memaksa tenaga kerja untuk punya kreativitas dan diberikan potensi bekerja sesuai dengan kesepakatan dan kemauan para pekerja itu sendiri, jika bekerja dalam waktu tertentu hasilnya juga dengan upah tertentu, demikian juga jika yang bekerja maksimal maka hasilnya juga akan maksimal.

Sudah terlalu lama kita di ninabobokan oleh aturan yang membuat lemah kita sendiri dan mematikan nilai juang yang tinggi. Sudah saatnya sistim dibuat agar tenaga kerja kita punya jiwa dan semangat yang tinggi.

Fenomena semacam ini memang sudah menjadi perhatian para ahli sejak pertama kali industrialisasi mulai merajalela pada akhir abad 18, dimana makin suburnya praktik kapitalisme. Salah satu orang mengkritik ini adalah Karl Marx, beliau mengatakan dalam teorinya tentang pengasingan  (alienation). Beliau menyampaikan kaum kapitalis berusaha menjauhkan pekerja dari produk pekerjaan mereka, oleh karena itu, pekerja di ninabobokan dari produktifitas perusahaan dan segala aspek perusahaan. Pekerja hanya diberi tempat pada pekerjaannya saja sehingga terpisah dari aspek-aspek lain, pekerja hanya perlu tahu pekerjaannya dan upah yang dia terima setiap bulannya, ini melahirkan sistim kerja tetap dengan gaji tetap. Pekerja hanya dijadikan sebagai robot atau alat bagi perusahaan. Model industrialisasi seperti ini sebenarnya sudah usang dan juga ditinggalkan, namun anehnya justru sekarang para pekerjalah yang justru menggandrungi model hubungan industrial yang dulu disukai kaum kapitalis.

Kembali kepada kedai kopi saya sampai saat ini saya belum menemukan cara bagaimana membuat agar operasional dan gaji karyawan bisa menutupi beban operasional.  Sehingga jangankan untuk profit kepada saya selaku pemilik usaha, untuk dapat menutupi operasional saja saya masih terus berupaya sebaik mungkin.

Undang-undang cipta kerja yang memberikan kesempatan kepada para pekerja untuk mengembangkan diri dan bekerja paruh waktu saya harapkan bisa menjadi solusi bagi saya selaku pengusaha kedai kopi untuk dapat menjalankan usaha ini dan semoga tidak menjadi ancaman buat saya karena regulasi yang sudah usang yang yang banyak digandrungi oleh para pekerja konvensional. Regulasi baru melahirkan peradaban baru, bagi mereka yang memiliki semangat pasti mendapat lebih manfaat dibandingkan dengan mereka yang ingin hidup dengan pas-pasan ala kebiasaan lama yang sudah usang.jika kita bandingkan dengan beberapa negara yang sudah maju, banyak pengalaman mahasiwa Indonesia yang dapat bekerja dengan part time, mereka bisa memanfaatkan waktu untuk bekerja di tempat yang tersedia, restoran misalnya, kesempatan seperti ini yang tidak pernah ada dengan sistem regulasi lama yang kita miliki. UU Cipta Kerja membuka peluang buat pekerja untuk dapat lebih memaksimalkan waktunya untuk menambah penghasilan

Regulasi baru meberikan harapan baru, member edukasi buat mereka yang mau berjuang, dan diharapkan melahirkan peradapan baru. Semoga.

Penulis  : Pilipus Tarigan, adalah Advokat dan Pemilik Kedai Kopi di Jakarta

Ilustrasi Omnibus Law Cipta Kerja : Sumber ; detik.com/Fuad Hasim

COMMENTS

Nama

Editorial,1,Hukum,3,News,85,Opini,17,
ltr
item
Legal Voice: Regulasi Baru, Melahirkan Peradaban Baru, Mau kah Kita Berubah ?
Regulasi Baru, Melahirkan Peradaban Baru, Mau kah Kita Berubah ?
https://1.bp.blogspot.com/-nRpBm2oyToM/X5LQjL9M69I/AAAAAAAAAbQ/_t_0Ej7VCDMkEziwnf0fHyE-7csPMCUaQCLcBGAsYHQ/w400-h225/ciptaker.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-nRpBm2oyToM/X5LQjL9M69I/AAAAAAAAAbQ/_t_0Ej7VCDMkEziwnf0fHyE-7csPMCUaQCLcBGAsYHQ/s72-w400-c-h225/ciptaker.jpeg
Legal Voice
http://www.legalvoice.id/2020/10/regulasi-baru-melahirkan-peradaban-baru.html
http://www.legalvoice.id/
http://www.legalvoice.id/
http://www.legalvoice.id/2020/10/regulasi-baru-melahirkan-peradaban-baru.html
true
5448203866042148273
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy